News Breaking
PHTV
wb_sunny

Breaking News

Pemuda yang Kehilangan Ruang Tumbuh

Pemuda yang Kehilangan Ruang Tumbuh


Oleh ; M. Idris, M.Pd.I 
Sekretaris DPW Hidayatullah Jawa Timur; Ketua Pemuda Hidayatullah Jawa Timur 2016–2017


Pada 31 Juli –2 Agustus 2026, pengurus Pemuda Hidayatullah Jawa Timur akan berkumpul di Jember. Rapat kerja wilayah pertama itu tentu akan dipenuhi semangat. Ada rancangan program, pembagian tugas, jadwal kegiatan, dan target yang hendak dicapai selama satu periode.

Namun, sebelum berbicara tentang apa yang akan dikerjakan, ada pertanyaan yang lebih mendasar: dengan kekuatan seperti apa semua program itu akan dijalankan?

Pertanyaan ini penting karena Pemuda Hidayatullah Jawa Timur tidak kekurangan nama kegiatan. Dari masa Syabab hingga berubah menjadi Pemuda Hidayatullah, organisasi ini telah melahirkan kajian, pelatihan kepemimpinan, dakwah pelosok, jurnalistik, jambore bela negara, pelayanan sosial, program ekonomi, pemuda camp, dan pembinaan mahasiswa.

Masalahnya bukan pada sedikitnya kegiatan. Masalahnya adalah apakah organisasi memiliki kader dengan kapasitas yang memadai untuk mengubah kegiatan menjadi gerakan.

Ada ironi yang perlu dibicarakan secara terbuka. Pemuda Hidayatullah Jawa Timur ingin menggarap mahasiswa di luar lingkungan Hidayatullah. Kampus-kampus besar di Surabaya, Malang, dan Jember dipandang sebagai ladang kaderisasi yang menjanjikan. Di sana ada ribuan mahasiswa dengan beragam latar belakang, cara berpikir, jaringan pergaulan, dan kultur akademik.

Namun, sebagian besar pengurus Pemuda Hidayatullah justru bukan alumni perguruan tinggi eksternal, baik negeri maupun swasta. Banyak yang tumbuh, belajar, bekerja, dan berorganisasi dalam ekosistem internal Hidayatullah.

Keadaan ini tidak otomatis menjadi kelemahan. Pendidikan internal telah melahirkan kader dengan loyalitas, kedisiplinan, dan pemahaman manhaj yang kuat. Tetapi, ketika hendak memasuki kampus eksternal, modal itu saja belum cukup.

Kampus negeri dan swasta memiliki bahasa, tradisi, serta dinamika yang berbeda. Mahasiswa hidup dalam perdebatan gagasan, organisasi ekstra kampus, komunitas minat, jejaring profesi, isu sosial, dan persaingan akademik. Mereka tidak selalu tertarik pada pendekatan dakwah yang terlalu formal. Mereka ingin didengar, diajak berdiskusi, diberi ruang bertanya, dan diperlakukan sebagai subjek yang sedang mencari jalan.

Pengurus yang tidak pernah mengalami kehidupan kampus eksternal dapat kesulitan membaca medan itu. Bukan karena mereka kurang cerdas, tetapi karena pengalaman sosial mereka berbeda. Akibatnya, program mahasiswa mudah berubah menjadi kegiatan dari luar kampus yang sekadar mengundang mahasiswa, bukan gerakan yang tumbuh dari dalam kehidupan mahasiswa.

Ada perbedaan antara mengadakan seminar untuk mahasiswa dan hidup bersama persoalan mahasiswa. Yang pertama cukup memerlukan gedung, pembicara, dan poster. Yang kedua membutuhkan pendamping yang memahami kegelisahan mereka tentang akademik, karier, pergaulan, biaya hidup, idealisme, masa depan, bahkan krisis identitas.

Karena itu, keinginan menggarap kampus eksternal harus dimulai dengan kerendahan hati. Pemuda Hidayatullah tidak harus merasa mampu melakukan semuanya sendiri. Organisasi perlu merekrut alumni kampus negeri dan swasta, membangun kemitraan dengan kader Hidayatullah yang berkarier di dunia akademik, serta memberi ruang kepemimpinan kepada mahasiswa yang benar-benar hidup dalam ekosistem kampus tersebut.

Kampus tidak dapat ditaklukkan dengan surat tugas. Ia harus dimasuki melalui pertemanan, kompetensi, gagasan, dan keteladanan.

Persoalan kedua lebih rumit karena menyentuh kehidupan sehari-hari kader. Sebagian besar pemuda Hidayatullah bekerja di amal usaha organisasi. Mereka menjadi guru, pegawai administrasi, pengelola unit usaha, staf lembaga sosial, atau tenaga pelaksana di berbagai institusi internal.

Amal usaha telah memberi ruang pengabdian dan penghidupan. Di sanalah kader belajar bertanggung jawab, melayani umat, dan menjaga keberlangsungan lembaga. Tidak adil bila amal usaha hanya dilihat sebagai beban.

Namun, kenyataan lain juga harus diakui. Pekerjaan di amal usaha sering menghabiskan hampir seluruh waktu produktif kader muda. Dari pagi hingga sore mereka bekerja. Malam hari digunakan untuk keluarga, tugas tambahan, atau kegiatan lembaga. Ketika organisasi pemuda memanggil, tenaga yang tersisa hanyalah sisa dari pekerjaan utama.

Akhirnya, Pemuda Hidayatullah dijalankan oleh orang-orang yang secara biologis masih muda, tetapi secara waktu sudah tidak memiliki masa muda.

Mereka tercatat sebagai pengurus, tetapi tidak mempunyai cukup ruang untuk membaca, membangun jaringan, mengembangkan keterampilan, merintis usaha, atau memasuki ruang-ruang publik. Organisasi kemudian bergerak pada waktu senggang. Rapat dilaksanakan malam hari ketika pikiran telah lelah. Program disusun di sela pekerjaan. Gagasan besar dibebankan kepada tenaga yang tersisa.

Inilah paradoksnya. Pemuda disebut sebagai pelopor, tetapi ruang geraknya amat terbatas. Mereka diharapkan progresif, tetapi hidup dalam rutinitas yang sulit ditinggalkan. Mereka diminta memperluas jaringan, tetapi sebagian besar waktunya habis di lingkungan yang sama.

Jika keadaan ini tidak dibicarakan, Rakerwil hanya akan menambahkan beban baru kepada pengurus yang sudah kehabisan waktu. Program bertambah, tetapi tenaga tidak bertambah. Target dinaikkan, tetapi ruang produktif tidak disediakan.

Pemuda Hidayatullah perlu berunding secara serius dengan struktur organisasi dan pengelola amal usaha. Pengurus muda yang diberi amanah organisasi harus memperoleh ruang waktu yang wajar. Bukan untuk menghindari pekerjaan, melainkan agar tugas kepemudaan tidak terus-menerus dijalankan sebagai kegiatan sampingan.

Organisasi tidak dapat menuntut lahirnya pemimpin muda sambil menghabiskan seluruh energi mudanya untuk pekerjaan rutin.

Masalah ketiga berada di wilayah yang lebih sensitif: tradisi berpikir. Hidayatullah dikenal memiliki kultur *sami‘na wa atha‘na*. Kami mendengar dan kami taat. Tradisi ini menjadi kekuatan besar dalam menjaga soliditas jamaah, mempercepat pelaksanaan keputusan, dan menumbuhkan kesediaan berkorban.

Tanpa ketaatan, organisasi mudah berubah menjadi arena perdebatan tanpa akhir. Setiap keputusan dipersoalkan, setiap arahan dinegosiasikan, dan setiap amanah dikerjakan berdasarkan selera pribadi. Dalam sejarah perjuangan, disiplin dan ketaatan adalah energi yang tidak dapat diremehkan.

Tetapi *sami‘na wa atha‘na* tidak boleh disalahpahami sebagai larangan berpikir.

Ketaatan kepada keputusan yang benar berbeda dengan kebiasaan menerima seluruh keadaan tanpa telaah. Loyalitas kepada organisasi berbeda dengan menutup mata terhadap kelemahan. Menghormati pemimpin berbeda dengan kehilangan keberanian menyampaikan kenyataan.

Di sinilah problem literasi kritis muncul. Sebagian kader terbiasa menerima instruksi, tetapi tidak cukup terlatih membaca persoalan secara mendalam. Mereka dapat menjalankan kegiatan, tetapi kesulitan menjelaskan mengapa kegiatan itu diperlukan. Mereka mampu mengikuti keputusan, tetapi belum tentu terbiasa menguji apakah sebuah strategi masih relevan dengan perubahan zaman.

Akibatnya, pembicaraan organisasi kerap berputar pada apa yang harus dilakukan, bukan mengapa hal itu dilakukan. Rapat dipenuhi laporan kegiatan, tetapi miskin analisis. Program diteruskan karena pernah dilakukan, bukan karena terbukti menyelesaikan masalah. Kritik dianggap sebagai tanda kurang loyal, sementara diam dipahami sebagai bentuk kedewasaan.

Padahal, generasi muda yang hendak masuk kampus, media, ekonomi, pemerintahan, dan ruang publik membutuhkan kemampuan membaca, menulis, berargumentasi, serta menguji gagasan. Mereka akan bertemu dengan orang-orang yang tidak tunduk hanya karena diberi instruksi. Mereka harus mampu meyakinkan dengan alasan, data, keteladanan, dan kualitas pemikiran.

Pemuda Hidayatullah perlu memulihkan makna ketaatan yang dewasa. Kader harus berani berpikir sebelum keputusan diambil dan bersungguh-sungguh menjalankan setelah keputusan ditetapkan. Forum musyawarah harus menjadi tempat paling aman untuk menyampaikan kritik. Setelah musyawarah selesai, semua pihak bergerak dalam satu barisan.

Dengan cara itu, *sami‘na wa atha‘na* tidak melahirkan kader pasif. Ia melahirkan kader yang berpikir tajam, berbicara jujur, dan tetap disiplin dalam berjamaah.

Tradisi literasi harus dibangun bukan sekadar melalui lomba menulis atau seminar jurnalistik. Setiap pengurus semestinya memiliki kebiasaan membaca. Setiap departemen perlu menyusun kajian masalah sebelum menyusun program. Setiap kegiatan harus menghasilkan catatan evaluasi. Setiap keputusan penting perlu ditopang data, bukan sekadar kesan.

Organisasi yang jarang membaca akan terus mengulang kesalahan dengan keyakinan bahwa ia sedang membuat terobosan.

Masalah keempat menyangkut kemandirian ekonomi. Sebagian besar kader muda Hidayatullah tumbuh sebagai pegawai. Mereka menerima gaji bulanan, bekerja dalam struktur yang telah tersedia, dan menjalankan tugas berdasarkan pembagian kerja lembaga.

Menjadi pegawai bukan aib. Lembaga pendidikan, sosial, dan dakwah membutuhkan pegawai yang profesional, amanah, dan tekun. Tidak semua orang harus menjadi pengusaha.

Masalah muncul ketika hampir seluruh kader dibentuk dalam pola yang sama. Organisasi kehilangan keberagaman kapasitas ekonomi. Sedikit yang berani membangun usaha, mengambil risiko, membaca pasar, menciptakan lapangan kerja, atau mengembangkan aset produktif.

Kultur pegawai cenderung menunggu sistem. Ada jadwal, atasan, uraian tugas, dan pendapatan tetap. Sebaliknya, dunia kewirausahaan menuntut keberanian menghadapi ketidakpastian. Seseorang harus menemukan peluang, menawarkan nilai, menerima kegagalan, dan terus belajar.

Bila organisasi ingin berbicara tentang kemandirian, ia tidak cukup menyelenggarakan seminar kewirausahaan. Seminar dapat menumbuhkan semangat selama beberapa hari, tetapi usaha membutuhkan pendampingan selama bertahun-tahun.

Pemuda memerlukan mentor usaha, tempat magang, akses modal, jaringan pasar, komunitas belajar, dan perlindungan ketika mencoba. Kader yang gagal merintis usaha jangan segera dianggap tidak berbakat. Kegagalan merupakan bagian dari proses yang harus dibaca dan diperbaiki.

Pemuda Hidayatullah juga perlu mengubah ukuran keberhasilan. Selama ini, kader muda yang memperoleh pekerjaan di amal usaha sering dianggap telah selesai. Ia sudah memiliki tempat pengabdian dan penghasilan. Padahal, sebagian di antara mereka mungkin memiliki bakat menjadi pengusaha, profesional, peneliti, aktivis publik, atau pemimpin komunitas.

Organisasi harus berani melepaskan kader memasuki ruang yang lebih luas. Jangan semua kader terbaik ditarik masuk ke dalam. Sebagian harus didorong keluar, menanam pengaruh, membangun jaringan, dan menciptakan sumber daya baru.

Empat persoalan tersebut saling berhubungan. Pengurus yang tidak memiliki pengalaman kampus eksternal kesulitan merekrut mahasiswa luar. Kader yang waktunya habis di amal usaha sulit membangun jaringan baru. Tradisi literasi yang lemah membuat organisasi tidak mampu membaca perubahan. Dominasi mental pegawai membatasi keberanian menciptakan kemandirian ekonomi.

Karena itu, jawabannya tidak cukup berupa empat program tambahan. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara organisasi mengelola kader muda.

Rakerwil di Jember harus berani menentukan siapa yang akan difokuskan menggarap kampus dan bagaimana mereka dibekali. Ia harus berani membicarakan pembagian waktu kader dengan amal usaha. Ia perlu membangun forum literasi yang memberi ruang bagi pertanyaan dan kritik. Ia juga harus menciptakan jalur nyata bagi kader yang hendak menjadi pengusaha.

Tidak perlu terlalu banyak program. Lebih baik beberapa perubahan mendasar benar-benar diwujudkan.

Pemuda Hidayatullah Jawa Timur telah berjalan lebih dari seperempat abad. Sejarah itu patut disyukuri, tetapi usia organisasi tidak otomatis menunjukkan kedewasaan. Organisasi menjadi dewasa ketika berani melihat dirinya tanpa riasan.

Kita tidak membutuhkan pengurus yang hanya pandai menaati agenda. Kita membutuhkan pemuda yang memahami alasan perjuangannya. Kita tidak membutuhkan kader yang terus-menerus sibuk di dalam pagar. Kita membutuhkan orang-orang yang berani keluar, membaca zaman, dan kembali membawa kekuatan baru bagi jamaah.

Jember seharusnya tidak hanya menghasilkan jadwal kegiatan. Dari sana harus lahir kesadaran bahwa persoalan utama Pemuda Hidayatullah bukan kurangnya acara, melainkan sempitnya ruang tumbuh kader.

Bila ruang itu dapat dibuka, pemuda akan menemukan jalannya. Mereka akan memasuki kampus tanpa merasa asing, bekerja tanpa kehilangan waktu produktif, taat tanpa berhenti berpikir, dan mandiri tanpa meninggalkan jamaah.

Tiga tahun mendatang, keberhasilan kepengurusan tidak perlu diukur dari banyaknya spanduk yang dicetak. Lihatlah apakah ada mahasiswa baru yang bergabung, kader yang tumbuh menjadi pemikir, pengurus yang berani memasuki ruang publik, dan pengusaha muda yang lahir dari pembinaan organisasi.

Di situlah Pemuda Hidayatullah Jawa Timur akan benar-benar menjadi pemuda: bukan hanya muda dalam usia, tetapi muda dalam keberanian membuka jalan.

Wallahu a‘lam.

Tags