Rakernas 2026: Titik Balik Pemuda Hidayatullah Mengukir Arah Bangsa
Ada satu pertanyaan mendasar yang
tak boleh dihindari oleh setiap gerakan pemuda hari ini: apakah kita sedang
benar-benar menggerakkan bangsa, atau sekadar menggerakkan agenda? Di tengah
arus perubahan global yang begitu cepat, krisis kepemimpinan yang kian terasa,
serta disrupsi nilai yang menggerus identitas, pemuda tidak lagi cukup hanya
hadir pemuda harus memimpin.
Rapat Kerja Nasional Pemuda
Hidayatullah 2026 bukan sekadar forum rutin organisasi. Ia adalah momentum
sejarah. Titik balik. Sebuah garis demarkasi antara masa lalu yang penuh
romantisme gerakan dan masa depan yang menuntut ketegasan arah, kedalaman
strategi, dan keberanian aksi. Rakernas ini mengandung satu pesan besar: pemuda
tidak boleh lagi berjalan biasa-biasa saja, karena tantangan bangsa tidak lagi
biasa.
Indonesia menuju 2045 bukan hanya
soal angka seratus tahun kemerdekaan. Ia adalah pertaruhan peradaban. Apakah
bangsa ini akan menjadi kekuatan besar dunia yang berdaulat secara ekonomi,
matang secara politik, dan kokoh secara moral? Atau justru menjadi bangsa yang
besar secara populasi, tetapi rapuh dalam karakter dan kehilangan arah? Jawaban
atas pertanyaan ini sangat ditentukan oleh kualitas pemudanya hari ini.
Di sinilah pentingnya
konsolidasi. Namun konsolidasi yang dimaksud bukan sekadar mengumpulkan
barisan, melainkan menyatukan visi, menyelaraskan gerak, dan meneguhkan
militansi. Konsolidasi adalah tentang membangun kesadaran kolektif bahwa setiap
kader adalah simpul perubahan, setiap wilayah adalah basis gerakan, dan setiap
program harus berdampak nyata.
Pemuda Hidayatullah memiliki
modal yang tidak kecil: jaringan kader, basis ideologis, serta pengalaman
dakwah dan pengabdian. Tetapi modal itu tidak akan berarti tanpa keberanian
untuk melompat lebih jauh. Rakernas ini harus menjadi ruang untuk mengoreksi
diri secara jujur apakah gerakan ini sudah cukup progresif? Apakah peran
strategis pemuda sudah benar-benar terasa di tengah umat dan bangsa? Atau
justru masih terjebak dalam rutinitas yang nyaman namun minim dampak?
Kita membutuhkan pergeseran
paradigma. Dari sekadar aktivitas menuju produktivitas. Dari simbolisme menuju
substansi. Dari reaktif menuju proaktif. Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton
dalam percaturan kebangsaan. Pemuda harus menjadi aktor utama yang menawarkan
solusi, memimpin perubahan, dan mengisi ruang-ruang strategis.
Peran strategis pemuda hari ini
mencakup banyak sektor: ekonomi, pendidikan, sosial, hingga kebijakan publik.
Di bidang ekonomi, pemuda harus hadir sebagai pelaku yang mandiri dan inovatif,
bukan hanya pencari kerja. Di bidang pendidikan, pemuda harus menjadi agen
pencerahan yang menanamkan nilai dan membangun peradaban ilmu. Di ranah sosial,
pemuda harus menjadi perekat yang merawat persatuan di tengah polarisasi. Dan
dalam kebijakan publik, pemuda harus berani masuk, mempengaruhi, bahkan
menentukan arah.
Rakernas 2026 harus melahirkan
lebih dari sekadar program kerja. Ia harus melahirkan keberanian baru. Keberanian
untuk keluar dari zona nyaman. Keberanian untuk mengambil peran yang lebih
besar. Dan keberanian untuk bertanggung jawab atas masa depan bangsa.
Karena sejatinya, bangsa ini
tidak kekurangan ide. Ia kekurangan eksekutor yang berintegritas. Ia tidak kekurangan
wacana. Ia kekurangan gerakan yang konsisten dan berdampak. Di sinilah pemuda
Hidayatullah ditantang: menjadi generasi yang tidak hanya berbicara tentang
perubahan, tetapi benar-benar mewujudkannya.
Jika Rakernas ini hanya
menghasilkan dokumen, maka ia akan menjadi arsip. Tetapi jika ia melahirkan
gerakan, maka ia akan menjadi sejarah.
Titik balik itu sudah di depan
mata. Pertanyaannya sederhana namun menentukan: apakah pemuda Hidayatullah siap
mengukir arah bangsa, atau justru menjadi bagian dari generasi yang melewatkan
momentum?
Pilihan itu ditentukan hari ini. Di Rakernas 2026. Di tangan para pemuda yang berani bergerak, berani berubah, dan berani memimpin. (Haniffudin/Ketua Umum PP Pemhida)