Menolak Lupa: Duka dan Keteguhan Palestina di Bawah Bayang-Bayang Pembantaian
Hampir delapan dekade berlalu, tanah Palestina belum juga mengecap kedamaian yang hakiki. Jejak sejarah mencatat, keberadaan entitas Zionis di tanah yang diberkahi tersebut terus diwarnai serangkaian aksi kekerasan dan tragedi kemanusiaan yang menimpa warga sipil tak berdosa.
Tragedi demi tragedi terus berulang. Salah satu yang menyayat hati adalah pemboman Rumah Sakit Al-Ahli Baptist di kawasan Zeitoun, Gaza. Peristiwa itu merenggut lebih dari 500 nyawa dalam seketika. Momen memilukan ini hanyalah satu bagian kecil dari rantai panjang penderitaan rakyat Palestina—mayoritas di antaranya adalah anak-anak, perempuan, dan orang tua yang tak bersenjata.
Doktrin Kekuatan dan Pengusiran Sistematis
Sejak awal berdiri, doktrin militeristik telah menjadi tumpuan utama gerakan Zionis. David Ben-Gurion, Perdana Menteri pertama entitas tersebut, pernah menegaskan bahwa situasi di Palestina hanya akan diselesaikan melalui jalur militer. Prinsip inilah yang kemudian menerjemahkan aksi-aksi kekerasan milisi dan militer pendudukan terhadap desa-desa serta kota-kota di Palestina. Tujuannya satu: mengusir penduduk asli dari tanah kelahirannya dan menggantikannya dengan pemukim baru.
Bahkan, tokoh seperti Menachem Begin dalam memoarnya tanpa ragu mengakui dampak dari peristiwa Deir Yassin pada tahun 1948. Peristiwa tersebut memicu ketakutan luar biasa hingga menyebabkan ratusan ribu warga Palestina terpaksa mengungsi. Sejarah mencatat, dari sekitar 800.000 warga Arab Palestina yang mendiami wilayah tersebut sebelum 1948, hanya sekitar 165.000 yang tersisa setelah peristiwa tersebut.
Dehumanisasi dan Narasi Kebencian
Pola-pola kekerasan ini kerap dilegitimasi oleh narasi dehumanisasi yang dilontarkan oleh para pejabat dan tokoh politik. Pernyataan yang mengabaikan hak-hak dasar manusia sering kali terdengar dalam panggung politik dan media mereka.
Mulai dari blokade total yang memutus akses air, listrik, makanan, hingga bahan bakar, sampai seruan-seruan radikal untuk meratakan kawasan permukiman. Narasi yang memosisikan pihak lain seolah-olah kehilangan hak kemanusiaannya menjadi instrumen politik untuk membenarkan tindakan melampaui batas di lapangan.
Catatan Kelam Sejarah Pembantaian
Jika kita menengok kembali lembaran sejarah perjuangan rakyat Palestina, terdapat sederet peristiwa kelam yang memakan korban jiwa dalam jumlah besar tanpa adanya penegakan hukum yang adil bagi para pelakunya:
Pasar Haifa (1937 & 1938): Serangan bom di pusat keramaian pasar yang menewaskan puluhan warga sipil Arab Palestina.
Balad al-Sheikh (1947): Serangan larut malam yang menewaskan sekitar 60 warga desa yang tak bersenjata, didominasi wanita dan anak-anak.
Deir Yassin (1948): Tragedi yang merenggut sekitar 300 nyawa warga desa, menjadi simbol ketakutan yang memicu gelombang pengungsian besar-besaran.
Abu Shusha (1948): Pembantaian menjelang berakhirnya Mandat Inggris yang menewaskan sekitar 60 warga sipil.
Tantura (1948): Serangan di wilayah pesisir yang memakan korban sekitar 200 jiwa, yang kemudian dikuburkan dalam kuburan massal.
Qibya (1953): Operasi militer yang dipimpin Ariel Sharon dengan meledakkan rumah-rumah warga beserta penghuninya di dalam, merenggut 67 nyawa.
Khan Younis (1956): Penembakan massal terhadap pengungsi di kamp konsentrasi yang menewaskan lebih dari 500 orang dalam dua gelombang serangan.
Sabra dan Shatila (1982): Pengepungan dan pembantaian di kamp pengungsian di Lebanon yang merenggut hingga 1.500 nyawa warga Palestina dan Lebanon.
Masjid Ibrahimi (1994): Penembakan terhadap jamaah yang sedang menunaikan shalat Subuh di bulan Ramadan, menewaskan 29 orang sujud.
Kamp Jenin (2002): Serbuan militer besar-besaran yang mengisolasi kota dan merenggut lebih dari 500 nyawa warga Palestina.
Oktober: Antara Panen Zaitun dan Ujian Perjuangan
Bagi masyarakat Palestina, bulan Oktober memiliki kedudukan yang sangat emosional. Oktober adalah musim panen zaitun—simbol keberkahan, kerja keras, dan keterikatan mereka pada tanah air.
Namun, di balik sejuknya musim panen, Oktober juga kerap menjadi saksi bisu terulangnya ujian dan duka mendalam. Meski tumpah darah dan air mata terus mengalir, keteguhan rakyat Palestina untuk bertahan di tanah mereka menjadi cermin daya tahan (sumud) yang tak pernah padam.
Sebagai generasi muda muslim, mendukung keadilan dan menyuarakan kebenaran bagi Palestina bukan sekadar isu politik regional, melainkan panggilan kemanusiaan dan ikatan keimanan yang akan terus kita kawal hingga kemerdekaan hakiki itu hadir.
Departemen Infokom Pemuda Hidayatullah/Rizky