Al Bukhari Abdul Wahid: Pemuda Harus Bangun Tradisi Intelektual
JAKARTA - Senior yang juga Ketua Umum pertama PP Syabab Hidayatullah, Al Bukhari Abdul Wahid, mengatakan pemuda harus membangun tradisi intelektual. Pemuda yang berhenti berfikir sama saja mati."Syabab Hidayatullah harus menghidupkan terus budaya ilmu dan tradisi intelektual. Jangan berhenti memikirkan umat untuk keluar dari problem yang dihadapi," kata Al Bukhari Abdul Wahid di Jakarta, Ahad (5/2/2017).
Beliau mengatakan, bukanlah tanpa maksud ketika Allah Ta'ala memberi perintah pertama kepada Muhammad Rasulullah untuk membaca atau Iqra'.
Bahkan, tegas dia, dalam lima ayat pertama surat Al'alaq yang diturunkan di Gua Hira itu, perintah Iqra' diulang dua kali.
"Jangan menanggap perintah membaca ini tidak lagi penting, padahal perintah ini bukan hanya berlaku kepada Rasulullah," cetusnya. Sehingga, jelasnya, perintah Iqra’ mestinya menjadi milik dan direaktualisasi kaum muslimin.
"Islam adalah agama haq yang sangat logis. Sehingga kesadaran berislam itu tidak lahir dari indoktrinasi dan kejumudan berfikir. Karena itu, pemuda harus bangun tradisi diskusi, tradisi ilmiah, jika tidak, kita akan kehilangan gairah pergerakan," tegas Bukhari yan karib disapa abang di kalangan pemuda Hidayatullah.
Bukhari menambahkan, kombinasi antara kemampuan berfikir benar, nalar yang utuh, serta obyektivitas dengan interaksi yang intens dengan wahyu menyelami makna dan tuntunan dari setiap ayat yang dibaca, maka akan menghasilkan al-hikmah, yakni petunjuk dan bimbingan Allah (ybh/hio)
"Jangan menanggap perintah membaca ini tidak lagi penting, padahal perintah ini bukan hanya berlaku kepada Rasulullah," cetusnya. Sehingga, jelasnya, perintah Iqra’ mestinya menjadi milik dan direaktualisasi kaum muslimin.
"Islam adalah agama haq yang sangat logis. Sehingga kesadaran berislam itu tidak lahir dari indoktrinasi dan kejumudan berfikir. Karena itu, pemuda harus bangun tradisi diskusi, tradisi ilmiah, jika tidak, kita akan kehilangan gairah pergerakan," tegas Bukhari yan karib disapa abang di kalangan pemuda Hidayatullah.
Bukhari menambahkan, kombinasi antara kemampuan berfikir benar, nalar yang utuh, serta obyektivitas dengan interaksi yang intens dengan wahyu menyelami makna dan tuntunan dari setiap ayat yang dibaca, maka akan menghasilkan al-hikmah, yakni petunjuk dan bimbingan Allah (ybh/hio)