Dari Banjir, Karhutla, hingga Erupsi Krakatau: Saatnya Kita Gotong Royong Pulihkan Luka Indonesia
Oleh: Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda HidayatullahSaudaraku sebangsa dan setanah air.
Jika kita menengadah ke langit dan menatap bumi pertiwi sepanjang rentang waktu dari Januari hingga September 2026 ini, rasanya hampir tak ada hari yang terlewat tanpa hantaman ujian alam. Negeri kita yang kaya dan indah ini sedang diuji ketegarannya melalui berbagai macam bencana yang datang silih berganti.
Berdasarkan data resmi penanggulangan bencana nasional dari BNPB per 6 September 2026, tercatat sebanyak 1.712 kejadian bencana telah melanda berbagai penjuru tanah air. Angka ini bukan sekadar deretan statistik di atas kertas, melainkan potret duka sekaligus panggilan nurani bagi kita semua. Mulai dari rentetan gempabumi yang terus menguji ketabahan saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur (NTT), ancaman kekeringan yang melanda, terjangan banjir dan tanah longsor, tingginya angka Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang mencapai 611 kejadian, hingga yang terbaru, peningkatan aktivitas vulkanik serta erupsi gunung berapi di Selat Sunda, Krakatau.
Dampak kemanusiaan yang ditimbulkannya sungguh menyayat hati. Sebanyak 390 jiwa meninggal dunia, 13 orang hilang, 2.080 orang mengalami luka-luka, serta lebih dari 4.219.438 jiwa terpaksa menderita dan mengungsi meninggalkan rumah mereka. Di sektor infrastruktur, sebanyak 111.533 rumah warga rusak (terdiri dari 57.869 rusak ringan, 24.521 rusak sedang, dan 29.143 rusak berat), serta 2.951 fasilitas umum, rumah ibadah, dan fasilitas kesehatan turut porak-poranda.
Refleksi Diri: Koreksi Bersama Pemerintah dan Rakyat
Rangkaian musibah ini menuntut kita untuk melakukan introspeksi mendalam (muhasabah nasional), baik bagi jajaran penyelenggara negara maupun seluruh elemen masyarakat.
Bagi Pemerintah , rentetan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan karhutla, serta dinamika geologis yang terjadi, adalah alarm keras untuk terus mengevaluasi kebijakan tata ruang, memperketat penegakan hukum terhadap perusakan lingkungan, serta memperkuat sistem mitigasi bencana berbasis teknologi dan komunitas yang berkelanjutan. Negara harus hadir bukan hanya saat tanggap darurat, tetapi juga dalam kepastian pemulihan jangka panjang bagi wilayah-wilayah rentan.
Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, musibah ini adalah cermin untuk melihat kembali sejauh mana kita memperlakukan alam dan sesama. Seringkali, ego kolektif dan pengabaian terhadap kelestarian lingkungan memperparah dampak dari bencana yang terjadi. Sudah saatnya kita menanggalkan perpecahan, menghentikan saling menyalahkan, dan bersatu padu menghadapi tantangan zaman dengan kesadaran ekologis yang tinggi.
Menyalakan Lentera Kolaborasi dan Gotong Royong
Saudaraku, di tengah duka dan debu reruntuhan, kekuatan terbesar bangsa ini bukanlah pada kekayaan alamnya, melainkan pada kebersamaan hatinya. Nilai luhur gotong royong adalah warisan paling autentik yang harus kita hidupkan kembali hari ini.
Rasa simpati yang singgah di dada kita harus segera ditransformasikan menjadi empati dan aksi nyata. Bantuan sekecil apa pun baik berupa uluran tangan logistik, tenaga relawan, doa yang tulus, maupun dukungan moril sangat berarti untuk meringankan beban berat yang dipikul oleh jutaan saudara kita di pengungsian.
Pemuda Hidayatullah berdiri bersama para pemuda dan seluruh elemen bangsa untuk menggerakkan solidaritas lintas sektoral, turun tangan langsung meringankan penderitaan rakyat.
Memulihkan Hutan, Merawat Lingkungan, Menatap Masa Depan
Banjir, kekeringan, dan karhutla yang mendominasi catatan bencana tahun ini adalah pesan tegas dari alam bahwa bumi kita sedang sakit dan kelelahan. Oleh karena itu, agenda pemulihan (recovery) tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga pada pemulihan ekologis.
Kita harus bahu-membahu melakukan reboisasi, merawat hutan yang gundul, menjaga daerah resapan air, dan menghentikan eksploitasi alam yang merusak. Merawat lingkungan adalah bagian integral dari menjaga kelangsungan hidup anak cucu kita di masa depan.
Mari kita jadikan momentum ini sebagai titik balik kebangkitan bangsa. Dengan persatuan yang kokoh, kolaborasi yang tulus antara pemerintah, masyarakat, dan gerakan kepemudaan, insya Allah kita mampu melewati badai ini. Mari kita basuh luka Indonesia dengan kerja nyata, kasih sayang, dan komitmen kuat untuk merawat bumi serta sesama.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan perlindungan, ketabahan, dan keberkahan bagi bangsa Indonesia tercinta. Aamiin yaa rabbal Alamiin