Empat Bekal Dakwah Anak Muda Zaman Sekarang
Oleh: Mhd Zuhri Fadhlullah
Kadept Organisasi & Polhukam PW PemHida DKI Jakarta
Anak muda hari ini hidup di tengah perubahan yang bergerak sangat cepat. Teknologi memberi akses informasi tanpa batas, media sosial membuat siapa pun mudah bersuara, dan berbagai tren datang silih berganti. Namun, di balik kemudahan itu muncul tantangan yang tidak sederhana: krisis arah, mudah terbawa arus, mengejar popularitas, hingga merasa cukup dengan menjadi penonton perubahan.
Di tengah kondisi tersebut, dakwah membutuhkan anak muda yang tidak hanya memiliki semangat, tetapi juga karakter, kapasitas, kemandirian, jaringan, dan ilmu.
Gagasan ini menarik untuk direnungkan dari materi yang disampaikan K.H. Naspi Arsyad dalam kegiatan kelembagaan Mitra Juang Hidayatullah Kota Bengkulu, Sabtu (5/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, beliau menguraikan strategi dakwah yang dirumuskan Ustadz Abdullah Said dengan mengambil ibrah dari karakter empat sahabat utama Rasulullah ï·º: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Jika dikontekstualisasikan dengan kehidupan pemuda hari ini, empat karakter tersebut dapat menjadi bekal penting untuk membangun diri sekaligus mengambil peran dalam dakwah dan kehidupan masyarakat.
1. Abu Bakar: Pandai Membangun Jaringan
Dakwah tidak boleh hidup dalam ruang yang sempit.
Anak muda perlu mampu membangun hubungan dengan berbagai kalangan: akademisi, profesional, pengusaha, birokrat, pemerintah, tokoh masyarakat, komunitas, hingga sesama generasi muda.
Di era digital, membangun koneksi memang semakin mudah. Namun, jaringan bukan sekadar jumlah kontak atau pengikut di media sosial. Jaringan yang kuat dibangun melalui kepercayaan, komunikasi, integritas, dan kontribusi.
Dari karakter Abu Bakar, kita belajar tentang kemampuan melakukan pendekatan dan membangun relasi.
Pemuda dakwah harus mampu hadir di banyak ruang tanpa kehilangan jati diri.
Jangan hanya dikenal di lingkaran sendiri. Jadilah pemuda yang mampu membawa nilai-nilai kebaikan ke ruang yang lebih luas.
2. Umar: Berani dan Teguh Memegang Prinsip
Dunia membutuhkan anak muda yang berani.
Berani mengambil tanggung jawab, menghadapi tantangan, menyampaikan kebenaran, dan mengatakan tidak terhadap sesuatu yang bertentangan dengan prinsip.
Karakter Umar bin Khattab memberikan teladan tentang keberanian, ketegasan, kedisiplinan, dan keteguhan.
Di tengah budaya yang mudah mengikuti tren dan tekanan lingkungan, pemuda membutuhkan prinsip yang kuat sebagai kompas kehidupan.
Namun, tegas bukan berarti keras. Berani bukan berarti nekat. Kritis bukan berarti kehilangan adab.
Pemuda yang kuat bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling teguh ketika memegang prinsip dan menjalankan amanah.
3. Utsman: Bangun Kemandirian Ekonomi
Dakwah membutuhkan kekuatan ekonomi. Banyak gagasan besar membutuhkan sumber daya agar dapat berjalan secara berkelanjutan.
Karena itu, pemuda perlu belajar mandiri secara ekonomi: membangun usaha, mengembangkan keterampilan, menciptakan peluang, dan mengelola keuangan dengan baik.
Karakter Utsman bin Affan memberikan teladan bahwa kekayaan dapat menjadi sarana kebaikan ketika dikelola dengan benar.
Kesuksesan ekonomi tidak harus dipertentangkan dengan dakwah. Justru, kemandirian ekonomi dapat memperluas ruang kontribusi.
Bisnis dapat membuka lapangan pekerjaan. Penghasilan dapat mendukung kegiatan sosial. Keuntungan dapat digunakan untuk membantu pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Yang dibutuhkan bukan sekadar pemuda yang ingin kaya, tetapi pemuda yang ketika memiliki mampu berbagi.
4. Ali: Perkuat Ilmu dan Kemampuan Berpikir
Tantangan anak muda hari ini bukan kekurangan informasi, melainkan bagaimana memilah dan memahaminya.
Setiap hari kita disuguhi berita, opini, potongan video, dan berbagai pandangan di media sosial. Semua orang dapat berbicara, tetapi tidak semua memiliki pemahaman yang cukup.
Di sinilah pentingnya ilmu.
Karakter Ali bin Abi Thalib mengajarkan tentang kedalaman ilmu, kecerdasan, dan kemampuan memahami persoalan.
Anak muda yang ingin berdakwah tidak boleh berhenti belajar. Dekat dengan Al-Qur'an, mendalami agama, membaca, berdiskusi, berguru, sekaligus memahami perkembangan teknologi dan berbagai persoalan sosial, ekonomi, politik, serta kehidupan masyarakat.
Jangan sampai kecepatan berbicara lebih tinggi daripada kedalaman berpikir.
Dakwah membutuhkan orang yang mampu memahami persoalan sebelum menawarkan solusi.
Empat Karakter, Satu Arah
Empat karakter tersebut tidak harus dimiliki secara sempurna oleh satu orang.
Ada pemuda yang kuat dalam membangun jaringan. Ada yang memiliki jiwa kepemimpinan. Ada yang berbakat dalam dunia usaha. Ada pula yang unggul dalam ilmu dan pendidikan.
Semua memiliki tempat.
Abu Bakar mengajarkan jaringan dan pendekatan.
Umar mengajarkan keberanian dan keteguhan.
Utsman mengajarkan kemandirian ekonomi dan kedermawanan.
Ali mengajarkan ilmu dan pembinaan.
Keempatnya bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipadukan dalam satu visi perjuangan.
Jika kekuatan tersebut tumbuh di kalangan generasi muda, dakwah tidak akan berhenti di mimbar dan masjid. Ia dapat hadir di kampus, kantor, dunia usaha, pemerintahan, komunitas, media, teknologi, pendidikan, dan berbagai ruang kehidupan lainnya.
Setiap pemuda memiliki pintu kontribusinya masing-masing.
Jangan Hanya Menjadi Penonton
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah anak muda memiliki potensi. Hampir setiap anak muda memiliki potensi.
Pertanyaannya adalah: untuk apa potensi itu digunakan?
Zaman ini membutuhkan pemuda yang tidak hanya membangun personal branding, tetapi juga personal capacity. Tidak hanya ingin dikenal, tetapi ingin memberi manfaat. Tidak hanya aktif di media sosial, tetapi juga hadir menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.
Maka, empat karakter tersebut layak menjadi bahan evaluasi bagi setiap pemuda
Kita mungkin tidak akan pernah mampu menyamai mereka. Tetapi kita dapat belajar dari mereka dan mengambil karakter terbaiknya sebagai bekal perjalanan.
Sebab masa depan dakwah dan bangsa tidak hanya membutuhkan anak muda yang cerdas. Ia membutuhkan pemuda yang berilmu, berkarakter, mandiri, berani, mampu bekerja sama, dan siap mengambil peran.
Perubahan besar tidak lahir dari generasi yang hanya menunggu.
Ia lahir dari pemuda yang berani berkata:
“Saya tidak ingin hanya menjadi penonton. Saya ingin ikut mengambil bagian.”