Ide dan Gerakan Pemuda

Oleh Imam Nawawi*

KETIKA fase Mekkah dan Umar bin Khathab telah masuk Islam, gelora sahabat yang mayoritas masih usia pemuda menghendaki gerakan melawan atas kekejaman Quraisy yang kian hari kian membuncah. Namun, ide dan gagasan yang hanya berpijak pada realitas itu tidak mendapat ruang persetujuan dari Nabi Muhammad ﷺ. 

Beliau ﷺ justru fokus pada penanaman aqidah, ide-ide yang didasarkan pada sumber wahyu, selanjutnya melakukan gerakan menempa diri dengan beragam ibadah termasuk menghadapi realitas pahit dengan penuh optimisme.

Martin Lings menuliskan dalam buku Sejarah Nabi Muhammad, “Para pemeluk Islam pertama memandang perintah yang ditujukan kepada Nabi sebagai berlaku bagi diri mereka juga. Karena itu, seperti halnya beliau, mereka bangun pada malam hari. Untuk sholat wajib, mereka kini berhati-hati, tidak hanya berwudhu namun juga memastikan kesucian pakaian mereka dari semua najis. Mereka juga cepat menghafal semua ayat Al-Qur’an yang diturunkan, yang dapat dibaca dalam sholat mereka.”

Fakta sejarah ini memberikan sebuah gambaran terang bagi kaum muda milenial bahwa sebuah ide dan gerakan tidak bisa semata-mata didasari semangat atas realitas yang mesti direspon. Tetapi harus benar-benar bersumber dari pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana Nabi mendidik para sahabat dalam membangun ide, cita-cita, dan gerakan.

Andai kala itu hanya berbasis realitas sosial, sudah barang tentu Makkah akan menjadi kisah yang berbeda dari fakta sejarah yang sama-sama kita ketahui. Di sini sebuah hikmah dapat kita temukan bahwa sabar itu di antaranya adalah dalam rangka menanamkan akar keimanan yang benar-benar kokoh, sehingga kala tiba waktu melangkah, ia tak mudah dicabut, apalagi ditumpas.

Gus Hamid dalam Minhaj mengutip uraian Ibn Taymiyah perihal iman ini. “Jika iman itu hanya perkataan tanpa perbuatan, maka itu kekufuran; jika hanya perkataan dan perbuatan tanpa disertai dengan niat maka itu kemunafikan; jika hanya perkataan dan perbuatan tanpa mengikuti sunnah maka itu adalah bid’ah.”

Maknanya jelas, dalam hal membangun ide dan gagasan pun, sudah barang tentu sangat ideal jika kita merujuk pada bagaimana Nabi membentuk para sahabatnya. Ustadz Abdullah Said merangkumnya dalam sebuah kajian syahadat, bahwa kalau syahadat benar, aman urusan penegakan iman berikutnya. Sebaliknya, jika rapuh, akan loyo semua sisi lanjutan dari upaya menjalankan syariat Islam itu sendiri.

Oleh karena itu, Pendiri Hidayatullah itu menegaskan, “Syahadat tidak sesederhana yang selama ini kita duga, kita kenal, dan yang kita praktikkan, sehingga sangat wajar sesungguhnya kalau Rasulullah ﷺ menjamin kemenangan manakala kita berhasil menyatakan secara utuh ungkapan (dari) Laa Ilaah Illallah itu.” (Kuliah Syahadat halaman: 92).

Gerakan Ilmu

Tantangan terbesar umat Islam saat ini bukanlah apa yang belakangan terjadi, semua itu tidak lain dari sebuah efek atau akibat dari absennya hal mendasar di dalam tubuh umat Islam itu sendiri, yakni ketiadaan kecintaan diri pada ilmu.

Prof. Abd Fatah El-Awaisi dalam Buku Emas Baitul Maqdis mengeluhkan hal ini, bahwa belum ada negara Islam yang membuka studi Baitul Maqdis di berbagai universtias. Di sisi lain, Yahudi dan Eropa sangat gencar melakukan studi tersebut, sudah jelas dengan framework mereka sendiri.

Di Indonesia tidak kalah buruknya, Adian Husaini mengungkapkan di dalam buku Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam bahwa referensi calon sarjana Islam di berbagai kampus Islam negeri di Indonesia bukan mengarahkan orang semakin yakin terhadap ajaran Islam, justru sebaliknya, bukan saja tumpul, malah menghantam ajaran Islam itu sendiri dengan beraga kritik yang membeo pemikiran para orientalis.

Dari fakta permukaan ini, kita harus kembali mengambil nafas panjang, memejamkan mata, dan bertanya pada diri sendiri, dari mana harus memulai memperbaiki keadaan ini. Jika merujuk pada historis kenabian, jelas dari gerakan Iqra’ Bismirabbik. 

Jika merujuk pada historis pembebasan Baitul Maqdis, maka dimulai dari sebuah konsep ilmu, seperti ditulis oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin. Atau seperti Muhammad Al-Fatih, maka harus dimulai dari cita-cita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Hidayatullah sebagai gerakan telah memiliki konsep ide dan gerakan yang tidak saja berupa kajian, tetapi nyata dalam peradaban negeri ini. Akankah itu dibiarkan sebagai sebuah fakta historis karena kini kita berada di samudera globalisasi.

Atau, justru kita paham bahwa itu adalah mutiara berarti harus dijaga dan terus diperindah di dalam kiprah ikut serta memajukan bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. Semua tergantung pada kaum muda lembaga itu sendiri. Allahu a’alam.* 

IMAM NAWAWI, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah
IMHI Berdedikasi

Membidik militansi dan progresifitas kader kampus bersama Ikatan Mahasiswa Hidayatullah (IMHI)

Infaq Jariyah

Beramal jariyah dengan berdonasi guna mendukung program Syabab Hidayatullah

Syabab Marchandise

Tersedia beragam perlengkapan, souvenir dan marchandise Syabab Hidayatullah

Kesekretariatan

Ragam file terkait organisasi dan panduan kesekretariatan Syabab Hidayatullah

Copyright © 2018 Depdatin PP Pemuda Hidayatullah