Meneguhkan Gerakan Kaderisasi Progresif, Idelis dan Revolusioner

Oleh Rizky Kurnia Syah*

PERWUJUDAN cita-cita membangun Peradaban Islam harus senantiasa terus diikhtiarkan dan diperjuangakan oleh setiap muslim. Tanpa ikhtiar dan pengorbanan, cita-cita itu hanya sebatas khayalan, tidak akan terwujud menjadi kenyataan.

Usaha, perjuangan dan pengorbanan menjadi syarat mutlak untuk menggapai cita-cita tersebut. Setidaknya terdapat tiga perkara yang menjadi titik perhatian sebagai ikhtiar, yaitu perhatian yang besar atas kesadaran beragama. Kedua, strategi. Serta terakhir, yang juga menjadi inti pokok tulisan ini, yaitu kaderisasi yang progresif.

Kaderisasi merupakan sunnatullah sebagai konsekwensi hidup yang dirasakan setiap insan. Sejak lahir hingga kematian, bingkai karakter dan pola piker manusia dipastikan tumbuh dan berkembang dalam rangkaian proses kaderisasi.

Setidaknya kaderisasi yang ia dapatkan dari kedua orang tuanya. Tanpa ia mengetahui makna dan istilah dari kaderisasi itu sendiri. Meski suatu saat waktu dan petualangan kehidupan akan mengantarkan ia mengetahui makna dan istilah kaderisasi.

Sepanjang yang kami ingat, istilah kaderisasi yang berasal dari kata dasar ‘kader’ pertamakali didengar lewat seorang ustadz ketika nyantri di Pesantren Hidayatullah Kaimana Papua Barat.

Kaderisasi dalam KBBI memiliki arti "orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam sebuah organisasi." Dengan demikian, kaderisasi adalah suatu proses dalam membentuk kader-kader baru dalam sebuat organisasi tersebut. Selain itu, kaderisasi juga menciptakan kader-kader yang mendukung sesuai dengan yang diinginkan, bukan paksaan semata.

Dalam konteks keumatan, setiap muslim berkewajiban melakukan ikhtiar kaderisasi untuk melahirkan figur-figur yang kualifaid dan memiliki daya juang tinggi. Dengan demikian dapat diharapkan idealisme perjuangan dapat dihayati secara mendasar dan terus berderab berkesinambungan. Betapa banyak goresan sejarah perjuangan yang terhenti dan mandeg dikarenakan generasi penerusnya kurang memahami hakikat dan cita-cita perjuangan.

Proses kaderisasi akan melahirkan generasi penerus yang lebih liat, lebih ulet, dan lebih baik. Generasi penerus adalah generasi muda yang akan melanjutkan dan meneruskan generasi yang sebelumnya. Dan yang dimaksud dengan generasi muda adalah pemuda, pemuda, dan pemuda.

Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ustadz Nashirul Haq (UNH) dalam sambutannya pada Munas ke-7 Syabab (Pemuda) Hidayatullah di Jakarta mengatakan bahwa pemuda itu identik dengan idealisme dan heroisme, tidak ada kata mundur dan penuh keberanian. Memiliki idealisme berarti tidak pragmatis, jika ada pemuda yang berfikir pragmatis, itu menyalahi kodratnya sebagai pemuda.

Kaderisasi dalam keorganisasian pada hakekatnya adalah totalitas upaya pembelajaran dan pemberdayaan yang dilakukan secara sistematis, terpadu, terukur dan berkelanjutan dalam rangka melakukan pembinaan dan pengembangan kognitif, afektif dan psikomotorik setiap individu.

Kaderisasi yang dilakukan oleh setiap organisasi bertujuan untuk mencetak “manusia-manusia unggul” yang memiliki loyalitas dan komitmen terhadap organisasi, memiliki integritas dan cita-cita berkemajuan. Biasanya kaderisasi dilakukan dalam banyak tahapan mulai dari jenjang kekaderan yang terendah hingga jenjang kekaderan yang paling atas.

Begitu juga dengan Pemuda Hidayatullah sebagai organisasi pendukung (orpen) Hidayatullah  dalam lingkup pemuda yang senantiasa melakukan proses perkaderan yang hampir tidak pernah putus.

Proses kaderisasi Pemuda Hidayatullah merupakan suatu keharusan karena organisasi ini mendedikasikan diri sebagai organisasi kader bukan organisasi massa.

Hidayatullah sebagai organisasi massa Islam berbasis kader telah menunjukkan eksistensinya organisasi yang menitik beratkan pada upaya mencetak kader-kader dakwah Islam yang tangguh untuk ditempatkan di medan-medan dakwah Islamiah di seluruh Indonesia.

Dari proses ini, terlihat bahwa Pemuda Hidayatullah sebagai OKP menjadikan perkaderan sebagai basis pengembangan dan ekspansi secara kelembagaan. Salah satu ciri khas dari kader muda Hidayatullah adalah memiliki militansi yang tinggi untuk mendakwahkan Islam dan tidak terpengaruh oleh situasi dan keadaan ekstrim tertentu di daerah, karena memiliki keyakinan Ilahiah yang sangat tinggi dalam berdakwah.

Oleh sebab itu, salah satu pekerjaan rumah terbesar yang harus menjadi titik perhatian adalah memastikan agar anggota dan kader muda Hidayatullah untuk senantiasa siap dan bersedia mengikuti proses kaderisasi. Sebab kaderisasi/perkaderan bukanlah upaya organisasi untuk menjebak atau mengekang kebebasan pemuda beranjak eksis. Proses kaderisasi dalam perjuangan di Hidayatullah tidak diukur dengan program kerja atau sepihak membatasi gerak dan inisiatif pemuda.

Kalau kader muda Hidayatullah berangggapan bahwa proses kaderisasi adalah suatu kegiatan yang teramat formal dan ada teknis-teknis pelaksanaannya terasa monoton dan menjadi penyebab dirinya tidak produktif dan inovasi, maka ia perlu ‘tahsin organisasi’ kembali.

Realitanya kini Hidayatullah menjadi role model lembaga perkaderan yang sukses mengorbitkan ribuan kader militan. Kegemilangan yang ada tidak luput dari ikhtiar dan perjuangan para kader awal yang begitu gigih memperjuangkan tersebarnya syiar Islam.

Sejatinya inti dari kaderisasi di lembaga perjuangan Hidayatullah adalah proses ’belajar dan mengalami’. So, kaderisasi bukan hanya tentang perekrutan anggota baru atau membuat program kerja perkaderan yang bias dipertanggungjawabkan kepada organisasi.

Hakekat kelangsungan kaderisasi di sebuah lembaga perjuangaan dapat diukur  ketika kader/anggotanya sadar untuk terus belajar memahami kondisi dan problem yang terjadi. Serta belajar mempersiapkan diri ‘menyengaja dengan sadar’ untuk mulai turut mengalami proses tersebut secara langsung dan mandiri.

Yang ingin kami sampaikan kepada pemuda dan anak muda, sesungguhnya tanpa kita sadari sebenarnya kaderisasi sangat lekat dalam kehidupan sehari-hari dan tidak terpisahkan dalam panjangnya petualangan usia muda kita.

Terutama bagi para kader muda Hidayatullah yang sedang membaca guratan ini yang sangat paham fungsi dan tugasnya sebagai kader ideologis yang melanjutkan cita-cita panjang Allahuyarham Abdullah Said yang sejatinya merupakan ideologi jariyah dari Nabi Ibrahim AS.

Olehnya, perlu dipahami bersama oleh para civitas Pemuda Hidayatullah, indikator proses melahirkan ‘Pribadi Kaderisasi’ sejatinya itu adalah sesuatu yang sederhana.

Sesederhana saat orang yang berada di lingkungan baru dan belum bisa berbaur, beberapa minggu berikutnya ia sudah terbiasa bercanda tawa dan merasa seperti sedang tinggal bersama keluarga.

Sesederhana saat seseorang yang sedang berinteraksi dengan orang lain, kemudian ia bisa mendapat banyak ilmu serta belajar banyak darinya.
Sesederhana seseorang yang berupaya mengenal, memahami, dan peduli pada lingkungan tempat tinggalnya.

Karena kaderisasi adalah tentang menjadi karakter yang lebih baik. Jangan pernah membandingkan dirimu dengan orang lain, bandingkanlah dirimu terhadap dirimu sendiri dari hari ke hari, semakin baik atau malah sebaliknya.

Karena sekali lagi, kaderisasi adalah proses memantaskan diri sesuai dengan kemampuan yang Allah berikan kepada kita untuk orang lain. Disetiap detiknya terdapat proses agar kita belajar tentang nilai-nilai, tentang hal-hal yang akan dialami. Bersamaan dengan itu, juga terdapat proses belajar untuk berinteraksi, memposisikan diri, berkarya dan menemukan potensi.

Dan pada akhir dari kesempurnaan proses itu, ketika ia berusaha menemukan menemukan kader-kader yang potensial yang dapat ia rekrut dan utuh mentransformasikan nilai.
Karena jariyah kaderisasi dari para nabi dan para hawariyun-nya, panji la ilaha illa Allah akan selalu ada sepanjang masa.

Kita berikhtiar melanjutkan proses melahirkan kader pelanjut untuk kejayaan Islam ini lewat wadah ‘Pemuda Hidayatullah’. Mari mengingat kembali amanat besar yang diembankan kepada kader muda Hidayatullah. Amanat kelembagaan melalui nasehat Ustadz Nashirul Haq (UNH) pada saat Munas Syabab (Pemuda) Hidayatullah ke-7 di Jakarta.

Anak-anakku sekalian, Anda harus bisa melakukan pembaharuan dan perbaikan, ini bisa jika kita aktif di tarbiyah, soal ini, sudah lengkap konsepnya, jika ini terimplementasi, maka hasilnya akan dahsyat, kita menyongsong Indonesia emas tahun 2045.

Pemuda Hidayatullah harus idealis, progresif, revolusioner, jiwa kepemimpinan, jiwa kepeloporan, dan jiwa penaklukan. Idealis artinya tidak tergoda iming-iming, progresif punya gagasan untuk perubahan, memiliki jiwa penaklukan, maksudnya loyal dalam tugas, tidak menawar jika ditugaskan, tidak menolak jika dimutasi.

Agar organisasi ini bisa terus eksis, maka peran pemuda di sini menjaga dan memelihara nilai-nilai prinsip dasar atau jati diri Hidayatullah.

Militansi dan etos kerja, yang dipadukan dengan inovasi dan kreatifitas maka itu akan dahsyat, karena kita hidup di zaman 4.0, untuk itu kita harus inovatif dan kreatif tapi tidak melupakan prinsip dasar Hidayatullah.


RIZKY KURNIA SYAH, penulis adalah Kepala Departemen Organisasi Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah
IMHI Berdedikasi

Membidik militansi dan progresifitas kader kampus bersama Ikatan Mahasiswa Hidayatullah (IMHI)

Infaq Jariyah

Beramal jariyah dengan berdonasi guna mendukung program Syabab Hidayatullah

Syabab Marchandise

Tersedia beragam perlengkapan, souvenir dan marchandise Syabab Hidayatullah

Kesekretariatan

Ragam file terkait organisasi dan panduan kesekretariatan Syabab Hidayatullah

Copyright © 2018 Depdatin PP Pemuda Hidayatullah