Koherensi Persatuan dan Kemenangan, Secuil Hikmah dari Urutsewu


PADA tanggal 9 hingga 11 Oktober 2020 yang lalu, saya bersama Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah lainnya melakukan kunjungan ke Kabupaten Kebumen. 

Kunjungan ini diadakan dalam rangka silaturrahim lanjutan sekaligus mengadakan survei lapangan menjelang perhelatan acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pemuda Hidayatullah 2020 yang rencana akan diadakan pada tanggal 27-29 November di kota ikon Lawet ini. 

Memanfaatkan momen tersebut, selain mengadakan beberapa rapat koordinasi dengan pihak terkait, PP Pemuda Hidayatullah dipandu oleh sahabat Ketua PD Hidayatullah Kebumen, Bang Usman Budiono membawa rombongan bersilaturahim dengan beberapa tokoh di sana.

Salah satu tokoh masyrakat yang kami kunjungi adalah Pak Seniman Martodikromo. Beliau adalah aktivis Urutsewu Bersatu dan Ketua Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan (FPPKS). 

Perbincangan dengan beliau sangat menarik dikarenakan banyak petuah dan pengalaman-pengalaman spiritual yang beliau dapatkan selama perjuangannya dibagikan kepada kami. 

Salah satu ungkapan Pak Seniman yang penulis catat adalah “Orang bodoh tidak bersatu tidak akan menang. Orang pintar tidak bersatu tidak akan menang. Orang bodoh bersatu bisa jadi menang. Orang pintar bersatu bisa menang. Orang shaleh bersatu bisa menang. Orang bejat bersatu bisa menang”.

Kata-kata beliau yang diucapkan dengan lirih dan pembawaan yang santai itu, seakan menghentakkan kami yang hadir saat itu. Ini adalah salah satu rumus penting bagi yang ingin meraih kejayaan dan kemenangan.

Akal fikiran saya langsung terbawa kepada salah satu ungkapan termahsyur sahabat Ali bin Abi Thalib, “Kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir”. 

Kita adalah umat pilihan yang mendapatkan amanah dari Allah SWT untuk menjadi khalifah di muka bumi dengan menegakkan kebenaran (amar ma’ruf) dan menentang kebathilan (nahi mungkar)

Allah berfirman, 

''Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah.'' (QS 3:10).

Kita bahkan sangat meyakini bahwa kebenaran yang datang akan selalu mampu menghancurkan kebathilan. 

''Dan katakanlah yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.'' (QS 17:81).

Tapi tentu juga kita sadari, bahwa kemenangan yang datang bukanlah tiba-tiba. Tidak mungkin kebenaran mampu mengalahkan kebatilan dicapai jika para pejuang kebenaran hanya dengan duduk termangu, berpangku tangan dan tidur sembari menunggu malaikat datang menghidangkan kemenangan tersebut di depan mata. Tidak! 

Tidak sama sekali. Karena hanya dengan perjuangan yang sungguh-sungguh maka izin Allah SWT akan memberikan jalan kemenangan. 

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS 29:69)

Perjuangan bukan berarti asal gerak dan asal berjuang. Allah SWT telah memberikan rumus pergerakan yang dengannya kaum muslimin dapat meraih kemenangan. 

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan (shaf) yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS 61:4). 

Shaf yang lurus dan rapat sebagaimana yang dicontohkan dalam shalat berjamaah mengandung makna penting dalam perjuangan dan pergerakan. 

Lurusnya shaf (barisan) para pejuang menandakan lurus dan tulusnya niat dalam berjuang menegakkan kebenaran sedangkan rapatnya shaf (barisan) memberi arti eratnya kesatuan hati para pejuang dalam melawan kebatilan. 

Rapat dan lurusnya barisan para pejuang diharapkan semakin menyatukan dan mendekatkan ruh-ruh orang beriman sehingga mereka menjadi saling mencintai di atas keridhaan Allah SWT. 

"Roh-roh bagaikan tentara yang tersusun. Jika saling mengenal maka akan bersatu, dan jika saling mengingkari maka akan berpisah." (HR Bukhari dan Muslim).

Gerakan perjuangan yang dilakukan secara sporadis dan insidental tidak akan mencapai kemenangan sejati. Karena perjuangan yang bersifat sporadis dan insidental tidak memiliki kekuatan jamaah dan mudah dikalahkan manakala berhadapan dengan kekuatan kebatilan yang tersusun rapi. 

Sebagaimana filosofi sapu lidi. Satu batang lidi tidak akan bisa membersihkan kotoran dan sampah di halaman rumah. Kalaupun ia bisa digunakan ianya tidak akan seefektif  dan seefisien ketika ia dikumpulkan dalam satu ikatan yang tersusun lagi rapi.

Sejarah sudah mencatatkan bahwa kejayaan umat Islam hanya akan dicapai ketika semua bersatu dalam satu ikatan – satu barisan kepemimpinan. Yang gerak juang dan tindak tanduknya mengikuti sesuai perintah imam. Takbir, ruku’, sujud bahkan salamnya pun mengikuti satu imam. Wallahu a’lam.

Mazlis B. Mustafa, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah


IMHI Berdedikasi

Membidik militansi dan progresifitas kader kampus bersama Ikatan Mahasiswa Hidayatullah (IMHI)

Infaq Jariyah

Beramal jariyah dengan berdonasi guna mendukung program Syabab Hidayatullah

Syabab Marchandise

Tersedia beragam perlengkapan, souvenir dan marchandise Syabab Hidayatullah

Kesekretariatan

Ragam file terkait organisasi dan panduan kesekretariatan Syabab Hidayatullah

Copyright © 2018 Depdatin PP Pemuda Hidayatullah