Ramadhan Lahirkan Jiwa Anti Munafik

Oleh Mazlis B Mustafa*

PERJALANAN panjang sejarah Islam menunjukkan betapa kemunafikan menjadi salah satu malapateka besar umat. Tidak heran jika 20 ayat pertama dari surah Al Baqarah, 13 ayat di antaranya membahas tentang ciri-ciri orang munafik, sedangkan ciri-ciri orang mukmin dibahas dalam 5 ayat dan bahkan ciri-ciri orang kafir yang jelas-jelas pertentangannya dengan mukminin hanya mendapat porsi 2 ayat. Bahkan, di dalam Al Qur’an ada Surah Al Munafiqun (Surah ke 63) yang terdiri dari 11 ayat khusus membahas tentang sifat orang Munafiq dan peringatan kepada Mukmin.

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Allah SWT memberikan banyak penjelasan dan secara detail sifat-sifat orang munafik karena sulitnya mendeteksi keberadaan mereka. Hal ini dikarenakan perbuatan nifak ini memperlihatkan kebaikan dan sikap mereka secara lahiriah, padahal batin mereka menolak beriman.

Sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, orang mukmin hanya mampu menilai dari sisi lahiriah saja, tidak mampu untuk membaca isi hati orang lain yang sebenarnya.

Maka, dari itu, Allah SWT (wahuwa ‘alimum bizaatis shuduur) memberikan bocoran karakteristik orang munafik agar orang mukmin mampu mengenali mereka dan lebih jauh berhati-hati akan potensi bahaya kerusakan yang akan mereka bawa.

Gunting dalam lipatan, pagar makan padi, bara dalam sekam adalah di antara peribahasa Melayu yang memberikan gambaran akan kejamnya sifat orang munafik. Fitnah besar yang terjadi di zaman Rasulullah SAW hingga Kekhalifahan Khulafaur Rasyidin terakhir, Ali Bin Abi Thalib selalu diprakarsai oleh orang munafik. Bahkan, hingga hari dan di zaman ini. Kemunafikan bukan saja merusak hati tapi menciderai persatuan ummat hingga perang saudara.

Karena keburukannya, maka Allah SWT memberikan balasan yang berat bagi orang munafiq seperti yang disampaikan  dalam surah an-Nisaa ayat ke-145 dinyatakan,

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka." 

Bahkan di dunia, orang munafiq mendapat konsekuensi berat berupa dilarangnya menshalatkan jenazahnya sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS At-Taubah ayat ke-84 yang berbunyi,

"Dan, janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan shalat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik."

Turunnya ayat ini merupakan teguran kepada Rasulullah SAW yang hendak menyalatkan Abdullah bin Ubay bin Salul. Salah satu tokoh munafik terkemuka di Madinah. Imam Ibnu Katsir menukil dari Hadis Riwayat Imam Bukhari. Pada saat matinya Abdullah bin Ubay bin Salul, anak Abdullah yang juga bernama Abdullah menghadap kepada Rasulullah SAW. Dia meminta agar Nabi memberikan gamis nabi untuk dijadikan kain kafan ayahnya.

Kemudian, Abdullah meminta kepada Rasulullah untuk menshalatkan jenazah ayahnya. Rasulullah pun bangkit untuk menyalatkannya. Namun, Umar bangkit seraya menarik baju Nabi untuk melarang beliau menshalatkannya.

Rasulullah SAW pun bersabda:

"Sesungguhnya Allah hanya memberiku pilihan. Dia telah berfirman,"Kamu mohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendati kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Dan, aku akan melakukannya lebih dari tujuh puluh kali."

Umar pun berkata kepada Nabi. "Dia orang munafik." Namun, Rasulullah tetap menshalatkannya, kemudian turunlah ayat yang berisi larangan untuk menshalatkan orang munafik tersebut.

Maka dari itu, pentinglah menjadi perhatian agar tidak mewarisi sifat munafik. Sebagai manusia yang setiap waktunya dihadapkan dengan bermacam godaan duniawi, maka penting bagi umat islam untuk  berusaha secara istiqomah menguatkan keimanan dan ketakwaannya agar terhindar dari sifat munafik. Salah satu usaha terbaik untuk melatih diri terhindar dari sifat munafik dengan tetap beriman adalah dengan berpuasa.

Allah SWT memberikan penilaian special buat ibadah puasa sebagaimana yang disampaikan dalam sebuah hadits qudsi “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung”.

Amalan seperti sholat, zakat, haji, sedekah dan lainnya adalah amalan lahiriyah yang tampak dan dapat disaksikan oleh orang lain. Sedangkan puasa, merupakan amalan yang hanya bisa dinilai oleh Allah SWT karena ia adalah pekerjaan hati dalam berniat dan merupakan rahsia antara seseorang dengan Allah SWT.

Puasa tidak bisa dilihat oleh seorangpun karena hakikatnya puasa tidak sekedar menahan diri dari lapar dan haus atau semua jenis pembatal puasa, namun lebih hebat dari itu ia harus benar-benar ikhlas dan sungguh-sungguh, dan ini tentunya tidak bisa diketahui kecuali oleh Allah Azza wa Jalla.

Oleh sebab itulah, maka puasa hanya dapat dilaksanakan oleh orang yang benar-benar beriman (QS 2:183). Bahkan, mereka yang dapat melewatinya dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan semata-mata mencari ridho Allah SWT akan naik tingkat menjadi orang yang bergelar taqwa (tattaquun).

Nah, bagi orang munafik bisa saja mengaku berpuasa padahal di saat tidak ada orang di sekitarnya dia makan dan minum. Kembali lagi ke rumus nifaq, sejatinya itu bukan puasa! Menampakkan diri di hadapan orang lain sebagai orang yang berpuasa, padahal sesungguhnya dia tidak benar-benar puasa!

Di Bulan Ramadhan di mana umat Islam menjalankan kewajiban ibadah puasa diharapkan menjadi madrasah dan wadah untuk mengikis sifat-sifat kemunafikan yang ada dalam diri manusia. Terutama kader muda Islam yang memiliki fungsi strategis dakwah agar bisa terhindar dari sifat nifaq, baik itu sifat nifaq iqtadi maupun sifat nifaq amali.

Besarnya potensi kader muda Islam dan vitalnya dakwah di tengah-tengah umat untuk memberikan pencerahan hanya dapat dilakukan bila Pemuda Islam jauh dari sifat munafiq.

Yang tidak kalah penting adalah, semakin maju zaman maka semakin canggih juga bentuk kemunafikan yang ada di dunia ini.

Pemuda Islam alumni Ramadhan yang mendapat gelar taqwalah harapan ummat sebagai ujung tombak melawan kemunafikan yang akhir-akhir ini seperti disengajakan menjadi public speaker merusak pola pikir dan nilai-nilai ketaatan kepada Sang Khaliq lewat berbagai isu dan propaganda yang disebarluaskan. Wallahu musta’an.

_____
*) MAZLIS B. MUSTAFA, penulis adalah Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah
IMHI Berdedikasi

Membidik militansi dan progresifitas kader kampus bersama Ikatan Mahasiswa Hidayatullah (IMHI)

Infaq Jariyah

Beramal jariyah dengan berdonasi guna mendukung program Syabab Hidayatullah

Syabab Marchandise

Tersedia beragam perlengkapan, souvenir dan marchandise Syabab Hidayatullah

Kesekretariatan

Ragam file terkait organisasi dan panduan kesekretariatan Syabab Hidayatullah

Copyright © 2018 Depdatin PP Pemuda Hidayatullah