News Breaking
PHTV
wb_sunny

Breaking News

Pemhida Jatim Diskusi Tantangan Dakwah Internasional dengan Pemuda ASEAN

Pemhida Jatim Diskusi Tantangan Dakwah Internasional dengan Pemuda ASEAN

SURABAYA--Sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, Islam menuntut pemeluknya untuk disebarkan. Itulah dakwah, menyampaikan risalah kepada seluruh manusia dengan keyakinan bahwa Islam akan menyelesaikan persoalan yang dihadapi manusia di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, dakwah perlu diorganisir agar berjalan sistematis dan massif (12/08/2023).

Dengan dasar pemikiran di atas lah, Pemuda Hidayatullah (Pemhida) Jawa Timur memanfaatkan momentum agenda OH VERY YOUNG!– International Camp for Peace and Prosperity yang diselenggarakan oleh Pemuda Hidayatullah bekerjasama dengan Departemen Hubungan Antar-Bangsa DPP Hidayatullah di tiga kota, yaitu Jakarta, Malang dan Surabaya sejak 1 Agustus hingga 14 Agustus 2023.

Setelah menghabiskan 3 hari di Jakarta, peserta yang terdiri dari perwakilan pemuda-pemuda dari berbagai Negara di Asia Pasifik tersebut melanjutkan kegiatan di Hidayatullah Malang selama 7 hari kemudian menuju Surabaya selama 3 hari.

Keberadaan mereka di Surabaya inilah yang dimaksimalkan oleh Pemhida Jatim, untuk berdiskusi dengan tajuk ‘Dakwah International, The Challenges and The Opportunities’ dengan harapan diskusi tersebut dapat menyamakan persepsi dalam meretas permasalahan dakwah di setiap negara peserta.

Selain membahas dakwah, Adib Nursyahid, ketua PW Pemhida Jatim yang juga hadir membersamai pemuda saat acara berlangsung menuturkan, acara ini juga adalah ajang membangun silaturrahim dan keakraban pemuda lintas Negara.

“Kami sengaja adakan dalam format informal, suasana santai. Sambil ngopi dan ngemil kacang rebus, biar semakin akrab.” Ujar Bang Adib yang juga dosen STAI Luqman al Hakim Surabaya ini.

Sementara itu, sekertaris PW Pemhida Jatim, Muhammad Faruq, yang mewakili Pemhida Jatim untuk memberi kata pengantar mengungkapkan bahwa manusia saat ini sedang mengalami kebingungan memaknai hidup. Akibatnya, terjadi banyak krisis.

“Dikalangan remaja terjadi krisis mental, lingkungan kita juga rusak oleh kapitalisme yang berorientasi materi, disisi lain distribusi kekayaan yang tidak merata membuat gap antara yang kaya dan miskin sangat besar" Ujar faruq

"Saking banyaknya masalah, manusia mencipatakan ideologi baru yang juga bermasalah.” Tutupnya seraya menyebut beberapa ideologi yang santer belakangan ini seperti veganisme, LGBQ+, Free Sex, Child Free dan sebagainya. Hal demikian, baginya adalah peluang bagi pemuda untuk memberi jawaban dengan dakwah.

Hal lain diungkapkan oleh Hamza Farid Ulla, peserta asal Malaysia. Dalam pengamatannya, ada hal lain yang juga menjadi tantangan dakwah, yaitu budaya kemuysrikan di kalangan masyarakat dan fanatisme madzhab yang ektrem.

“Jadi kalau ada yang berbeda cara beragamanya, langsung di cap kafir.” Ucap pemuda keturunan Rohingya tersebut.


Lain di Malaysia, lain di Kamboja. Arifin, peserta asal Kamboja mengakui, budaya seks bebas adalah hal biasa di negaranya. Maklum, sebagai negara mayoritas non-muslim, sangat kekurangan da’i. Bahkan ia sendiri pernah hampir terjebak dalam budaya haram tersebut. 

Acara yang berlangsung sejak pukul 20.00 hingga 21.30 tersebut dilaksanakan di Lapangan Integral Luqman al Hakim, Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya dan berlangsung hangat. 

Diskusi renyah diselingi canda tawa tanda akrab menjadi pelengkap malam minggu, bagi pemuda-pemuda yang berjanji akan meneruskan risalah dakwah ini.*)Faruq-Jatim

Tags