News Breaking
PHTV
wb_sunny

Breaking News

Menyembelih Ego di Era Flexing: Mengapa Anak Muda Butuh 'Mentalitas Ibrahim'?

Menyembelih Ego di Era Flexing: Mengapa Anak Muda Butuh 'Mentalitas Ibrahim'?


Coba buka smartphone Anda sekarang, lalu mulailah berselancar di media sosial selama lima menit saja. Apa yang Anda lihat?

Di satu layar, kita melihat seseorang berusia 20an tahun memamerkan kunci mobil sport barunya. Di layar lain, ada cerita tentang liburan mewah di Eropa, atau pencapaian karier mentereng dengan label *“Blessed”* dan *“Alhamdulillah”* yang estetik. Di era algoritma hari ini, panggung digital telah berubah menjadi arena gladiator bernama *flexing* sebuah kompetisi tanpa akhir untuk menunjukkan siapa yang paling sukses, paling bahagia, dan paling memiliki segalanya.

Kita, sebagai anak muda, diam-diam terjebak dalam pusaran ini. Kita diracuni oleh *FOMO* (Fear of Missing Out), rasa cemas bahwa kita tertinggal jauh di belakang. Akibatnya, ego kita membengkak. Kita menjadi generasi yang haus akan validasi, mendewakan angka *likes*, dan memandang harga diri dari seberapa mewah apa yang bisa kita tunjukkan kepada orang lain.

Namun, di balik semua kilau kurasi digital itu, ada realitas kemanusiaan yang rapuh: kecemasan akut, krisis identitas, dan hilangnya empati nyata pada sesama. Kita sibuk membangun "menara gading" ego kita sendiri, sementara di dunia nyata, kepedulian sosial kita justru sedang mengalami defisit yang parah.

Di titik kritis inilah, momen Qurban khususnya refleksi atas kisah klasik Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi sangat relevan. Qurban bukan sekadar ritual tahunan menyembelih hewan dan membagikan plastik-plastik berisi daging. Lebih dalam dari itu, Qurban adalah sebuah intervensi spiritual yang radikal untuk kesehatan mental dan sosial kita.


Esensi Qurban: Mengiris Keterikatan Buta

Mari kita bedah sejarahnya dengan bahasa yang membumi. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan putranya, Ismail, perintah itu sejatinya bukan tentang pembunuhan fisik. Ismail adalah anak yang dinanti-nanti selama puluhan tahun, simbol dari segala harapan, kebanggaan, dan cinta terdalam seorang ayah. Ismail adalah "pencapaian tertinggi" dalam hidup Ibrahim. 

Perintah menyembelih Ismail adalah ujian pamungkas: *Mampukah Ibrahim memutuskan keterikatan buta pada hal duniawi yang paling dicintainya demi sesuatu yang jauh lebih besar?*

Ketika pisau itu menyentuh leher Ismail, yang sebenarnya mati hari itu bukanlah sang anak, melainkan ego, kepemilikan, dan keangkuhanseorang manusia. Ibrahim berhasil meruntuhkan berhala dalam hatinya sendiri.

Bagi kita, anak muda hari ini, "Ismail" kita bukan lagi seorang anak. "Ismail" modern kita adalah citra diri di media sosial, gengsi pergaulan, obsesi untuk selalu terlihat superior, dan ketakutan dianggap gagal oleh lingkungan. Kita telah menjadikan ego dan pencapaian kita sebagai berhala baru yang harus disembah setiap hari melalui layar ponsel.

Maka, "Mentalitas Ibrahim" yang kita butuhkan saat ini adalah keberanian untuk menyembelih ego tersebut.

Solusi Inovatif: Dari "Aku Punya Apa?" Menjadi "Aku Bisa Kasih Apa?"

Menghadapi masalah krisis ego di era digital ini, kita tidak bisa sekadar menutup mata atau menghapus akun media sosial kita. Solusinya harus bersifat transformatif dan solutif bagi kehidupan nyata. Kita perlu mendefinisikan ulang cara kita berinteraksi dengan diri sendiri dan masyarakat melalui tiga langkah konkret:


1. Praktik *“Digital Qurban”* (Diet Gengsi)

Jika dulu Ibrahim mengorbankan harta terbaiknya, mari kita korbankan dorongan impulsif untuk selalu memamerkan segalanya. Mulailah mengorbankan waktu senggang yang biasanya habis untuk *scrolling* tidak produktif, lalu ubah menjadi momen untuk belajar keterampilan baru atau mendengar keluh kesah teman di dunia nyata. Sembelih keinginan untuk dipuji, dan ganti dengan niat untuk memberi dampak.


2. Membalik Logika Validasi

Ubah pertanyaan dasar dalam hidup kita. Dari yang awalnya selalu berpikir, *“Apa yang bisa saya dapatkan dan tunjukkan hari ini?”* menjadi *“Masalah kemanusiaan apa yang bisa saya bantu selesaikan hari ini?”*. Ketika fokus kita bergeser ke luar diri (ke masyarakat, organisasi, atau lingkungan), secara otomatis ego kita akan menyusut ke ukuran yang sehat.


3. Redesain Aksi Sosial Berkelanjutan

Sebagai pemuda, kita harus berinovasi. Jangan biarkan semangat Qurban berhenti di hari tasyrik. Kita bisa memanfaatkan teknologi untuk menggerakkan solidaritas.

Mengupload: 34631 dari 34631 byte diupload.


Penutup: Saatnya Mengasah Pisau

Qurban adalah pengingat bahwa manusia tidak akan pernah menemukan kedamaian sejati jika dia terus memberi makan egonya yang lapar. Ego tidak akan pernah kenyang; semakin diberi makan, ia akan semakin menuntut.

Anak muda yang menggugah bukanlah mereka yang pamer saldo rekening atau liburan mewah di media sosial. Anak muda yang sesungguhnya adalah mereka yang memiliki "Mentalitas Ibrahim": tangguh, mandiri, namun memiliki hati yang tunduk untuk melayani sesama manusia.

Mari kita jadikan momentum ini untuk mengasah pisau kesadaran kita. Sembelih kesombongan kita, sembelih rasa malas kita, dan sembelih ketidakpedulian kita. Karena pada akhirnya, yang sampai kepada Tuhan dan yang membekas di hati manusia bukanlah kilau *feed* Instagram kita, melainkan ketulusan dampak dan kemanfaatan yang kita tinggalkan bagi dunia.

Wallahu a'lam bishawab 


Oleh: Hanif Chaniago

Tags