News Breaking
PHTV
wb_sunny

Breaking News

Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah Hadiri Sarasehan Asta Cita di Universitas Paramadina

Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah Hadiri Sarasehan Asta Cita di Universitas Paramadina

Jakarta Timur — Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, Bang Haniffuddin Chaniago, menghadiri kegiatan Serial Sarasehan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto: Ideologi Pancasila, Cita dan Nyata, yang diselenggarakan oleh Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (DN-PIM) bekerja sama dengan Universitas Paramadina, Selasa (27/01/2026), bertempat di Aula TP Rachmat, Kampus Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta Timur.

Kegiatan yang bersifat undangan terbuka untuk umum ini dihadiri oleh berbagai tokoh lintas agama, cendekiawan, akademisi, serta elemen masyarakat sipil. Forum ini menjadi ruang dialog kebangsaan yang mempertemukan beragam perspektif dalam membahas arah ideologis dan tantangan strategis pembangunan Indonesia ke depan.

Sarasehan Kebangsaan dibuka dengan sambutan Prof. Dr. Din Syamsuddin, Ketua Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (DN-PIM). Dalam pengantarnya, Prof. Din menegaskan bahwa Pergerakan Indonesia Maju (PIM) merupakan gerakan rakyat yang bersifat inklusif, melampaui sekat-sekat primordial seperti agama, suku, profesi, hingga gender. Menurutnya, PIM hadir sebagai ruang kebersamaan untuk merawat dan memajukan Indonesia secara kolektif dengan semangat kebangsaan sebagai fondasi utama.

Lebih lanjut, Prof. Din menyampaikan bahwa sarasehan ini menandai dimulainya rangkaian Sarasehan Kebangsaan Angkatan 01, sebuah forum intelektual dan reflektif yang secara khusus membahas Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Dalam pandangan DN-PIM, Asta Cita dipandang sebagai rumusan visi dan misi yang relevan serta strategis bagi kebangkitan dan kemajuan Indonesia.

Pada sesi awal, pembahasan difokuskan pada Asta Cita pertama, yaitu Pancasila, yang dirumuskan dalam pertanyaan mendasar: Pancasila, antara cita dan nyata, atau sekadar pergantian antara cita dan fakta? Pertanyaan ini diajukan sebagai upaya untuk menempatkan Pancasila tidak hanya sebagai simbol atau retorika politik, melainkan sebagai ideologi yang hidup dan membimbing praktik berbangsa dan bernegara.

Menelusuri sejarah perumusannya, khususnya dalam sidang BPUPKI menjelang kemerdekaan, Prof. Din mengingatkan bahwa Pancasila sejak awal dirancang sebagai fondasi filsafat negara (philosophical foundation). Hal tersebut kemudian ditegaskan melalui pencantumannya dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang menempatkan Pancasila sebagai filsafat bangsa sekaligus ideologi negara.

Melalui sarasehan ini, DN-PIM berharap diskursus kebangsaan dapat berkembang secara lebih substantif dan aplikatif, tidak berhenti pada tataran simbolik, sehingga nilai-nilai Pancasila dapat dihadirkan secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sarasehan menghadirkan sejumlah narasumber nasional, antara lain Pdt. Dr. Jackvelyn Manuputty (Ketua Umum PGI), Dr. Fachry Ali (tokoh cendekiawan), Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Ketua Dewan Pers), serta Prof. Dr. Phillip K. Widjaja (Ketua Umum Permabudhi). Kegiatan ditutup dengan catatan reflektif oleh Prof. Dr. Didik J. Rachbini, Rektor Universitas Paramadina.

Kehadiran berbagai elemen bangsa dalam forum ini mencerminkan komitmen bersama untuk menjaga ruang dialog yang sehat, inklusif, dan berorientasi pada penguatan fondasi ideologis serta arah pembangunan Indonesia ke depan.*

Tags

Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama